Misi Pertama UEA Bakal Meneliti Atmosfer di Mars

Misi Pertama UEA Bakal Meneliti Atmosfer di Mars

JAKARTA – Setelah melakukan beberapa kali penundaan akibat kondisi cuaca yang buruk, misi Hope resmi meluncur menggunakan roket H-IIA dari Tanegashima Space Center, Lepas Pantai Kyushu, Jepang (19/7/2020).

Kabarnya, Hope melaju dengan kecepatan 121. 000 km/jam menuju Mars. Ini merupakan misi pertama dari Uni Emirat Arab (UEA) yang rencananya akan mendarat di Planet Merah pada awal tahun depan setelah melakukan perjalanan sekitar tujuh bulan.

Dilansir Forbes , Hope merupakan pesawat orbital yang direncanakan untuk menjelajahi atmosfer Mars selama satu tahun penuh, atau 687 hari (waktu satu tahun di Mars). Adapun setiap satu kali orbit di planet itu dapat diselesaikan dalam waktu 55 jam.

Melalui misi ini Uni Emirat Arab berencana untuk mengambil beberapa buah sample harian dan mingguan di planet tersebut. Ini akan terbagi dalam dua bidang studi, yakni atmosfer bagian atas dan bawah.

Baca juga:   Masya Allah, Tanda-Tanda Kiamat Dijelaskan dalam Alquran dan Sains

Studi atmosfer bawah akan mempelajari mengenai kondisi cuaca di planet merah selama satu tahun. Sebagaimana disampaikan, Sarah Al Amiri, Menteri Negara Uni Emirat Arab untuk Ilmu Pengetahuan Lanjut dan Wakil Manajer Proyek Misi Mars Emirates, kepada Forbes, “Kami berfokus pada atmosfer Mars yang lebih rendah – ini adalah dinamika cuaca, siklus debu, siklus karbondioksida, suhu atmosfer dan permukaan, siklus air, dan siklus awan es sepanjang siklus siang ke malam”.

Sedangkan untuk studi atmosfer atas dilakukan guna mengetahui penyebab hilangnya atmosfer di Mars. Adapun untuk mendukung misinya ini, pesawat ruang angkasa seberat 1. 350 kg itu membawa muatan atau instrumen lain di antaranya:

1. EXI (Emirates Exploration Imaginer) atau kamera digital beresolusi tinggi yang akan digunakan untuk mengambil foto sekaligus mengukur air es dan ozon di lapisan atmosfer bawah Planet Merah melalui band UV.

2. EMIRS (Spektrometer InfraRed Emirates Mars), merupakan alat yang diciptakan oleh Arizona State University dan berguna untuk mengukur distribusi debu global, awan es, dan uap air di lapisan atmosfer bawah.

3. EMUS (Spektrometer Ultraviolet Emirates Mars), berbeda dengan EMIRS, alat ini akan digunakan pada lapisan atas atmosfer untuk mengukur oksigen dan karbon monoksida dalam termosfer dan variabilitas hidrogen dan oksigen.

Dalam studi ini, pihak Uni Emirat Arab hanya akan menghubungi pesawat ruang angkasa Hope selama 6 hingga 8 jam dalam dua kali seminggu saja.

(ahl)

Loading…