Sarjana Peringatkan Potensi Mega-Tsunami di Alaska

Sarjana Peringatkan Potensi Mega-Tsunami di Alaska

PARA ilmuwan menunjukkan adanya potensi mega-tsunami di Alaska yang bisa terjadi dalam 12 bulan ke depan. Hasil studi baru ini menunjukkan bahwa gunung-gunung sedang runtuh karena lapisan es yang menyatukannya mencair, mengancam terjadinya mega-tsunami jika jatuh ke bahar.

Mereka memperingatkan bahwa daerah berpenduduk dan tempat-tempat wisata utama di Alaska gawat bahaya mega-tsunami ini. Salah mulia area yang menjadi perhatian adalah kemiringan fyord Barry Arm dalam Alaska yang menghadap ke rute kapal pesiar yang populer.

Baca serupa: Burung Ini Pecahkan Rekor Terbang dari Alaska ke Selandia Perdana Tanpa Henti 

Kemerosotan Barry Arm mulai berlaku pada awal abad lalu, dipercepat satu dekade kemudian, dan terlihat bertambah parah pada tahun tersebut melalui pengamatan foto satelit.

Jika gletser Barry Arm berjatuhan ke laut, bisa melahirkan gelombang besar dan menghantam kapal mana pun di daerah itu. Kemudian mencapai ratusan meter pada atas pegunungan di dekatnya, menenggelamkan tujuan wisata populer di Alaska dan menghantam setinggi 10 meter di atas Kota Whittier.

Potensi mega-tsunami di Alaska. (Foto: Lauren Dauphin/NASA Earth Observatory/USGS/Scence Alert)

Di Mei lalu, para ilmuwan yang terdiri dari 14 ahli geologi itu memberikan surat terbuka kepada Departemen Sumber Daya Alam Alaska (ADNR) pada bulan Mei yang isinya memperingatkan bahwa longsor mulia dan tsnumai mungkin saja berlaku dalam 1 tahun atau 20 tahun ke depan.

Baca juga: NASA Teliti Dampak Kebakaran Hutan Arktik dalam Alaska 

“Saat iklim berubah, lanskap membutuhkan masa untuk menyesuaikan. Jika gletser jatuh dengan sangat cepat, lereng dalam sekitarnya dapat terperanjat, mereka agak-agak jatuh secara bersamaan, ” kata ahli geologi Bretwood Higman yang pernah bekerja di Taan Fiord dan Barry Arm, sebagaimana dikutip dari The Guardian , Selasa (20/10/2020).

Sementara ahli geologi Erin Bessette-Kirton Misalnya setelah memeriksa foto planet selama 30 tahun menemukan kalau tanah longsor di Pegunungan St Elias dan Teluk Gletser Alaska berhubungan dengan cuaca yang semakin hangat.